Selasa, 29 Maret 2011

pola tanam

TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH DASAR BUDIDAYA TANAMAN
( POLA TANAM )


1.1 Latar belakang
Sektor pertanian di indonesia memang bisa dikatakan cukup luas, hal ini dapat dibuktikan dengan terdapatnya lahan-lahan pertanian yang terletak di berbagai tempat, oleh sebab itu rata-rata penduduk indonesia berprofesi sebagai petani. Dalam hal ini tentu tujuan utama mereka melakukan tanam adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal supaya dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dengan menggunakan hasil mereka dari bekerja. Untuk menghasilkhan hasil yang maksimal maka salah satu faktor yang harus di perhatikan adalah pola tanam. Pelaksanaan pola tanam juga harus mengkondisikan tempat/lokasi dimana tanaman itu akan tumbuh nantinya. Pola tanam yang paling banyak di gunakan adalah sistim monokultur, sedang Monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam.
Selain itu ada juga faktor yang harus diperhatikan lagi, yakni sifat fisika maupun kimia dari tanah tersebut. Dengan memperhatikan faktor-faktor yang ada maka pelaksanaan pola tanam tentu akan mempunyai hasil yang baik dan nantinya akan berdampak pada hasil ahir dari tanaman tersebut.
1.2 Tujuan
• Untuk mengetahui pengertian dari pola tanam
• Untuk mengetahui potensi dan dampak pengenbangan pola tanam
• Untuk mengetahui macam-macam sistem pola tanam






II.PEMBAHASAN
2.1 Pengertian pola tanam
Pola tanam adalah usaha yang dilakukan dengan melaksanakan penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dari tanaman dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami selama periode tertentu. Sedangkan tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam. Dalam penerapannya pada bidang pertanian pola tanam tentu harus dilaksanakan dengan sistim yang benar dan sesuai dengan kondisi lahan yang akan di jadikan sebagai media tanam.
Pertanian di indonesia memang sudah mengalami beberapa perubahan hingga kini, walaupun belum sepenuhnya petani-petani dapat merubah sistim pertanian mereka. Petani modern yang pada umumnya di kembangkan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi sudah melakukan berbagai perubahan dalam pengelolaanya mereka sudah tidak menggunakan tenaga manusia, melainkan menggunakan tenaga mesin. Tapi pada masyarakat pedesaan yang berprofesi sebagai petani khususnya golongan menengah kebawah mereka tetap menggunakan tenaga manusia,salah satu penyebanya adalah tidak terjangkaunya harga dari alat-alat pertanian yang biasa di gunakan oleh petani modern.
Dalam melaksanakan pola tanam tentu yang juga harus diperhatikan adalah keberhasilan dalam melakukan penanaman,manusia sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya dalam pelaksanaan tanam tersebut diantaranya adalah pembelajaran dari petani tersebut,banyak petani yang melakukan pembelajaran secara otodidak hanya dengan beberapa saat sudah dapat menjadi pelaku pertanian yang ada biasanya ini sering terjadi pada masyarakat pedesan, tapi sebaliknya dengan pendidikan yang cukup dan tentunya sudah melakukan berbagai pelatihan dalam pelaksanaan pertanian tentu juga akan mempengaruhi keberhasilan dari tanam tersebut.Selain itu kemampuan juga sangat diperlukan untuk mencapai suatu keberhasilan,dengan kemampuan yang tinggi tentu juga akan menghasilkan keberhasilan dalam pelaksanaan tanam tersebut.

2.2 Potensi dan dampak pengembangan pola tanam
Pengembangan diversifikasi atau pola usaha tani perlu dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan pertimbangan lingkungan dan permintaan pasar,agar mendapatkan manfaat yang maksimal dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani.Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan pola tanam(usaha tani)adalah sebagai berikut:
• Ketersediaan air yang menyangkup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung pada kinerja air irigasi serta pola distribusi dan jumlah hujan.
• Keadaan tanah yang meliputi sifat fisik,kimia dan bentuk permukaan tanah.
• Tinggi tempat dari permukaan laut,terutama sehubungan dengan suhu udara,tanah dan ketersediaan air.
• Eksistensi hama dan penyakit tanaman yang bersifat kronis dan potensial.
• Ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanaman yang meliputi jenis dan varietas menurut agroekosistem dan toleransi terhadap jasad penggangu.
• Aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil produksi dengan dukungan infrastruktur dan potensi pasar yang memadai.
Berdasarkan pada sifat tanah dan tipe iklim, terdapat enam jenis agroekosistem sebagai basis pola pertanaman dalam setahun (annual cropping pattern) (Setjanata, 1983; Karama et al., 1988; Karama, 1989). Keenam jenis agroekosistem dan pola tanam yang potensial adalah sebagai berikut:
(1)Lahan sawah irigasi dengan ketersediaan air irigasi 10-12 bulan: (a) Padi sawah-padi sawah-padi sawah. Pola ini dianjur-kan pada kondisi kesulitan drainase, de-ngan kewajiban menggunakan VUTW dan pengembalian bahan organik tanaman atau pemakaian kompos(b) Padi sawah-padi sawah-palawija/sayuran
(2)Lahan sawah irigasi dengan jaminan ketersediaan air irigasi 7-9 bulan: (a) Padi sawah padi sawah walik jerami-palawija/sayuran(b)Padi sawah-palawija/sayuran- palawija/sayuran
(3)Lahan sawah irigasi dengan ketersediaan air irigasi 5-6 bulan: (a) Gogo rancah padi sawah walik jerami-palawija(b) Palawija-padi sawah-palawija/sayuran(c) Padi sawah-palawija/sayuran.
(4)Lahan sawah tadah hujan: (a) Gogo rancah-padi sawah-kacang tunggak(b) Padi sawah-palawija/sayuran(c) Gogo rancah palawija-palawija/sayuran dan (c) Budidaya sistem surjan;
(5)Lahan pasang surut (khusus Kalimantan Selatan): (a) Padi unggul-padi unggul (untuk daerah tipe A, B, dan C) (b) Padi unggul-padi lokal (untuk daerah tipe A, B, dan C) (c) Padi-palawija (daerah tipe C dan D) (d) Palawija-palawija-palawija (daerah tipe C dan D) (f) Budidaya sistem surjan.
(6)Lahan kering: (a) Padi gogo tumpangsari dengan jagung yang ditanam pada awal musim hujan (b) Tanaman substitusi padi gogo seperti kacang tanah atau kedelai (c) Pola tanaman lorong (alley cropping)dengan tanaman pagar (hedgerow) seperti tanaman legume, buah-buahan atau tanaman industri (kelapa dan kopi) (d) Pola tanam dengan mengikutsertakan ta-naman perkebunan dan ternak dalam sistem usahatani lahan kering.

2.3 Sistem pola tanam

Pola penanaman dapat dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan polikultur. Monokultur adalah penanaman satu jenis tanaman pada lahan dan waktu penanaman yang sama. Sedangkan polikultur adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama.
Monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Kelemahan utamanya adalah keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme pengganggu tanaman (OPT, seperti hama dan penyakit tanaman).
Polikultur merupakan pemilihan tanaman dan teknis budidaya yang baik dan tepat. Pada sistem polikultur ini akan memberikan bermacam keuntungan, diantaranya adalah :
• Dapat menambah kesuburan tanah. Menanam tanaman kacang-kacangan berdampingan dengan tanaman jenis lainnya dapat menambah kandungan unsur Nitrogen dalam tanah karena pada bintil akar kacang-kacangan menempel bakteri Rhizobium yang dapat mengikat Nitrogen dari udara. Dan menanam secara berdampingan tanaman yang perakarannya berbeda dapat membuat tanah menjadi gembur.
• Meminimalkan hama dan penyakit tanaman. Sistem polikultur dibarengi dengan rotasi tanaman dapat memutuskan siklus hidup hama dan penyakit tanaman. Menanam tanaman secara berdampingan dapat mengurangi hama penyakit tanaman salah satu pendampingnya, misalnya : bawang daun yang mengeluarkan baunya dapat mengusir hama ulat pada tanaman kol atau kubis.
• Mendapat hasil panen beragam yang menguntungkan. Menanam dengan lebih dari satu tanaman tentu menghasilkan panen lebih dari satu atau beragam tanaman. Pemilihan ragam tanaman yang tepat dapat menguntungkan karena jika satu jenis tanaman memiliki nilai harga rendah dapat ditutupi oleh nilai harga tanaman pendamping lainnya.
Sistem penanaman polikultur juga memiliki kekurangan terutama jika tidak sesuai dengan pemilihan jenis tanaman, diantaranya adalah :
• Persaingan antara tanaman dalam menghisap unsur hara dalam tanah.
• Dengan beragam jenis tanam maka hama penyakit juga semakin banyak atau beragam.
• Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat.
Dalam pola tanam polikultur terdapat beberapa macam istilah dari sistem ini, yang mana pengertiannya sama yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama tetapi alasan dan tujuannya yang berbeda, yaitu :
1. Tumpang Campuran yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang sama dan umumnya bertujuan mengurangi hama penyakit dari jenis tanaman yang satu atau pendampingnya.
2. Tumpang Sari yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan teratur.
3. Tumpang Gilir yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan yang sama selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen.
4. Tanaman Pendamping yaitu penanaman dalam satu bedeng ditanam lebih dari satu tanaman sebagai pendamping jenis tanaman lainnya yang bertujuan untuk saling melengkapi dalam kebutuhan fisik dan unsur hara.
5. Penanaman Lorong yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dengan penanaman tanaman berumur pendek diantara larikan atau lorong tanaman berumur panjang atau tanaman tahunan.
6. Pergiliran atau Rotasi Tanaman yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman yang tidak sefamili secara bergilir pada satu lahan yang bertujuan untuk memutuskan siklus hidup hama penyakit tanaman.
Dalam penanaman sistem polikultur ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis tanaman yang akan ditanam dalam penerapannnya yaitu :
• Kebutuhan sinar matahari ; pemilihan jenis tanaman yang tinggi, rindang, berdaun lebat dan membutuhkan sinar matahari lama dengan jenis tanaman yang pendek dan tidak membutuhkan sinar matahari lama atau perlu naungan.
• Kebutuhan unsur hara ; adanya jenis tanaman yang membutuhkan sedikit unsur N dan jenis tanaman yang membutuhkan banyak unsur N dan ada jenis tanaman yang mampu mengikat unsur N dari udara yaitu tanaman kacang-kacangan.
• Sistem perkaran ; Adanya jenis tanaman yang memiliki perakaran di dalam tanah yang dalam, dangkal, melebar dan lainnya


III.PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pola tanam adalah usaha yang dilakukan dengan melaksanakan penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dari tanaman dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa bera. Dalam penerapannya pada bidang pertanian pola tanam tentu harus dilaksanakan dengan sistim yang benar dan sesuai dengan kondisi lahan yang akan di jadikan sebagai media tanam. Manusia sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya dalam pelaksanaan tanam tersebut diantaranya adalah pembelajaran dari petani tersebut,banyak petani yang melakukan pembelajaran secara otodidak.Selain itu kemampuan juga sangat diperlukan untuk mencapai suatu keberhasilan.
Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan pola tanam(usaha tani)adalah ketersediaan air yang menyangkup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung pada kinerja air irigasi serta pola distribusi dan jumlah hujan. Pola penanaman dapat dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan polikultur. Monokultur adalah penanaman satu jenis tanaman pada lahan dan waktu penanaman yang sama. Sedangkan polikultur adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama.









DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2011.http://gurumuda.com/bse/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-dan-perkembangan-tumbuhan
Anonymous.2011.http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanaman_tunggal Anonymous.2011.http://rickyuntukpertanian.blogspot.com/2010/11/blog-post.html
Anonymous.2011.http://www.ditlin.hortikultura.deptan.go…
Setjanata, S. 1983. Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola Usahatani dalam Usaha Intensifikasi (Proyek Bimas). Lokakarya Teknologi dan Dampak Penelitian Pola Tanam dan Usahatani, Bogor, 20-21 Juni 1983. Pusat Penelitian dan Pengemba-ngan Tanam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar